Mengunjungi Air Terjun Tembang di Desa Wisata Luk Sagu

Air Terjun Tembang merupakan salah satu objek wisata yang sudah populer di Kabupaten Banggai Kepulauan karena sudah dikelola oleh masyarakat lokal melalui program Desa Wisata dari PNPM Pariwisata. Terletak di Desa Luk Sagu, sekitar km dari Kota Salakan atau 1 jam dengan kendaraaan bermotor. Akses dari jalan raya menuju lokasi air terjun sekitar 2 km atau 20 menit dengan motor yang melewati pematang sawah. Ada tiga titik air terjun yang bertingkat. Untuk sampai ke air terjun yang paling atas diperlukan keahlian khusus. Debit airnya mencapai 1.860,4 liter/detik. Pepohonan yang rimbun di sekelilingnya menambah hawa sejuk di sekitar air terjun. Menurut Ketua LPM Batu Sinua (nama kelompok pemberdayaan masyarakat di Desa Luk Sagu), Bahra La’ali, keberadaan air terjun Tembang sudah dikenal masyarakat sejak lama. Kemudian, pada bulan Agustus 2012, ada kunjungan dari Kamenparekraf yang meninjau langsung lokasi air terjun Tembang. Sejak itu, masyarakat diminta komitmennya untuk mengelola objek wisata ini karena bantuan dana PNPM Mandiri Pariwisata akan memfasilitasinya.

DSC_6551
Hingga saat ini, bantuan sudah diterima dua tahap, pertama tahun 2012 sebesar Rp. 75.000.000,- dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 100.000.000,-. Dengan sokongan dana tersebut, beberapa fasilitas pendukung sudah dibangun seperti gazebo, mushola, termasuk 4 gorong-gorong di sekitarnya. Selain itu, dana juga digunakan untuk pengadaan alat keterampilan, alat musik, seragam kelompok, dan berbagai pelatihan dalam meningkatkan keterampilan masyarakat. Sejak pertama kali dibuka resmi, sekitar bulan Februari atau Maret 2013, antusiasme masyarakat lokal sangat luar biasa. Seperti yang dituturkan Bahra La’ali, “Pengunjung pernah sampai 1000 orang dalam sehari, itu saat awal-awal dibuka. Kemudian turun sampai 600, 500, 300 sampai 30 orang..”. Air terjun ini dibuka setiap Sabtu dan Minggu. Awalnya, belum ada pencatatan pengunjung yang datang. Namun, baru-baru ini karcis masuk sudah diterapkan oleh pihak pengelola sehingga jumlah pengunjung dapat diketahui melalui seberapa karcis yang terjual. Penerapan karcis masuk ini terkait juga dengan Peraturan Desa setempat.

DSC_6514
Sementara itu, dari program Desa Wisata, dibentuklah 5 kelompok yang diharapkan dapat membantu berjalannya pengelolaan, antara lain kelompok pengembangan DTW, souvenir, seni, kerajinan, dan kuliner. “Tapi kalau dilihat saat ini, ketuanya saya juga, yang bergerak saya juga. Padahal setiap kelompok ada ketuanya. Jadi kendalanya adalah kelompok-kelompok tersebut tdak berjalan..”, ungkap Bahra La’ali atau biasa disapa Yanto ini. Kendala SDM yang masih terbatas ini menjadi krusial karena sebagian besar masyarakat, termasuk mereka yang masuk dalam kelompok-kelompok tadi, belum memahami pentingnya pariwisata. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Bahra La’ali dalam menggerakkan masyarakat dan mengelola air terjun Tembang. Seperti membuat panggung kesenian di sekitar air terjun sebagai variasi daya tarik, merencanakan pembangunan akses terdekat menuju lokasi melalui pasar tradisional yang berjarak ± 500 meter, termasuk normalisasi air sungai. Namun, ide-ide tersebut kerap tidak didukung oleh Pemda setempat karena terkait anggaran dan gejolak pro-kontra politik yang ada di pemerintahan. Seperti halnya PLTA di lokasi air terjun yang pernah satu tahun beroperasi, tetapi rusak karena kapasitasnya yang tidak memadai dan belum diperbaiki hingga saat ini. Padahal, jika PLTA ini diperbaiki dapat mendukung berjalannya aktivitas panggung kesenian tadi. “Jadi bagaimana menciptakan daya tarik yang terkesan, tidak monoton hanya mandi-mandi, tetapi kalau ada pertunjukan orang akan mau balik lagi ke sini..”, tutur Bahra La’ali.

Meskipun demikian, upaya masyarakat Luk Sagu, terlebih ketua pengelola, berbuah hasil. Tren masyarakat untuk berwisata, mencintai aset sumberdaya alam yang ada di daerahnya lebih meningkat, termasuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. “Saya mengenalkan gaya pariwisata seperti ini. Tour itu apa. Kalau kemarin masyarakat hanya berkebun saja. Padahal, cara mendapatkan uang tidak hanya dengan perkebunan. Misalnya ketika hari libur,pada akhirnya banyak yang berdagang di lokasi air terjun. Ini hari bapak-bapak bisa jualan pisang, jualan buah-buahan. Kalau kemarin-kemarin orang kan tidak mungkin datang ke sini. Jadi yang untung kan mereka juga..”. Selain itu, Luk Sagu juga menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya dalam mengembangkan objek wisata yang ada.

Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>