Lolantang : Awal Mula Penyebaran Islam di Pulau Peling

Salah satu tempat yang dapat dijadikan lokasi wisata sejarah sekaligus wisata religi di Banggai Kepulauan adalah Desa Lolantang. Lolantang dipercaya sebagai awal mula penyebaran Islam di Pulau Peling. Dari Salakan menuju Lolantang membutuhkan waktu 3 jam dengan kendaraan bermotor. Terdapat benteng dan dua makam tua yang menjadi bukti historis masuknya Islam di Pulau Peling, yakni makam Imam Lipu Adino dan makam Imam Sya’ban. Berada 1 km dari Desa Lolantang, di bukit dengan ketinggian sekitar 500 mdpl. Untuk mencapainya, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama ± 20 menit. Masyarakat setempat percaya bahwa pada abad ke-7 Masehi, Islam telah masuk di Pulau Peling. Seperti yang dituturkan H. Abd. Hamid K. Unus, salah seorang tetua dan tokoh agama setempat, “Memang tidak ada berita tertulis, tapi menurut cerita orang tua, Islam masuk pertama-tama di sini. Hanya karena masalah pendidikan yang kurang, jadi tidak ditahu. Beda kalau Aceh. Sehingga perkembangan Islam tidak terlalu nampak di sini”.

DSC_8216
Lipu Adino dipercaya hadir mensyiarkan Islam di tanah ini. Dari tulisan lokal yang berjudul Masuknya Islam di Pulau Peling oleh Bapak Anwar Lamiju, seorang tokoh masyarakat di Pulau Peling, dikatakan bahwa arti kata Lipuadino dalam bahasa Banggai adalah suatu negeri yang indah di bawah lindungan Allah. Namun sebagian pendapat mengatakan bahwa Puadino adalah pendiri benteng dan untuk mengenangnya, negeri yang dibangunnya tersebut diasosiasikan dengan nama Lipuadino, yaitu negeri bapak Puadino. Sedangkan Imam Sya’ban adalah murid dari Lipu Adino yang turut mensyiarkan Islam di daerah Lolantang. Masih menurut tulisan Anwar Lamiju, situs tersebut terletak dalam benteng Lipuadino dengan luas ± 1 ha memanjang dari selatan ke utara dengan tinggi 1 – 2 meter. Sedangkan makam Lipu Adino diberi pagar batu dengan panjang 6 m, lebar 4 m, dan tinggi 90 cm. Dalam pagar batu tepat di depan nisan terdapat lafaz Allah dan disampingnya tertulis pula dengan Melayu Arab, salah satunya angka 68. Angka tersebut ditafsirkan sebagai tahun wafatnya Puadino, yaitu 68 Hijriah atau 678 Masehi (namun jika dihitung kembali, angka 678 Masehi ini kurang tepat). Jarak makam Lipu Adino dan Imam Sya’ban sekitar 30 meter.

DSC_8253

DSC_8194

Sementara itu, di Lolantang juga terdapat batu nisan Imam Sya’ban yang kini disimpan di rumah salah seorang tetua. Beratnya ± 35 – 40 kg, dengan panjang 55 cm, lebar 18 cm, dan tebal 8 cm. Terbuat dari batu kali sehingga permukaannya licin dan halus serta baik untuk menuliskan pesan. Salah satu pesan dalam tulisan Melayu Arab yang pernah ditafsirkan adalah perintah untuk bertahlil karena Allah dan RasulNya. Dalam nisan tersebut juga tertulis angka 168 yang kemudian ditasirkan sebagai tahun wafat Imam Sya’ban, 168 Hijriah.

DSC_8301

Selain itu, terdapat pula peta alam yang dipercaya oleh masyarakat sebagai inti ajaran Islam yang diajarkan kepada para pengikutnya. Peta tersebut masih disimpan di rumah keluarga keturunan sang Imam, yaitu Hj. Djainiba Niya Umar yang kini usianya 84 tahun. Adapun isi dari peta yang bertuliskan Melayu Arab tersebut antara lain gambaran kehidupan manusia sebelum lahir, sesudah lahir, dan sesudah mati. Peta tersebut juga merupakan rangkuman dari peribadatan seorang hamba terhadap Sang Khaliq dengan zikrullah (mengingat Allah) menjadi intinya. Namun sekali lagi, ini semua baru sebatas penafsiran manusia, sebab sudah banyak kyai atau ulama yang mencoba menafsirkan tulisan-tulisan yang ada di situs ini dengan pendapat yang berbeda-beda.

Bookmark the permalink.

One Comment

Tinggalkan Balasan ke jalil mangalia Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>